Mekanisme Pemanfaatan NPN Oleh Hewan Ruminansia

NPN ( Non-Protein Nitrogen) adalah senyawa yang mengandung N, tetapi bukan berasal dari protein. Ada dua senyawa NPN yang dikenal yaitu NPN organik dan anorganik. NPN organik, contohnya amonia, amida, asam amino, urea dan beberapa peptida. Sedangkan yang termasuk dalam NPN anorganik adalah beberapa jenis garam-garam seperti klorida, amonium fosfat, dan amonium sulfat.
Hewan ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing memperoleh asupan nitrogen dari proses fermentasi makanan bukan protein ( non-protein) oleh bakteri yang terdapat dalam sistem pencernaan. Mereka dapat hidup dengan ransum berkualitas protein rendah dan mampu memanfaatkan senyawa Non-Protein Nitrogen untuk pembentukan protein mikroba sebagai protein pakannya. Rahasia keberhasilan panggunaan NPN adalah penguasaan dan pengontrolan dalam penggunaannya.
Misalnya sebab salah satu faktor pembatas penggunaan urea untuk ruminansia adalah kecepatan perubahannya menjadi NH3 empat kali lebih cepat dibanding dengan kecepatan penggunaannya menjadi sel mikroba.
Ruminansia berbeda dengan mamalia yang tidak memiliki enzim yang diperlukan untuk mencerna serat atau mengkonversi non-protein nitrogen (NPN) menjadi protein secara efisien. Kontribusi tunggal terbesar mikrobia rumen adalah kemampuannya untuk memfermentasi bahan-bahan berserat. Fermentasi ini menghasilkan energi, protein, dan vitamin B pada ternak. Secara umum dapat dikatakan bahwa ruminansia makan untuk memberi makan mikrobia dan mikrobia memberi makan untuk ruminansia. Hubungan simbiosis klasik.
Mikrobia dapat secara efektif menggunakan sumber nitrogen non protein (seperti biuret dan urea, yang merupakan sumber amonia) karena memiliki enzim dan sistem metabolik untuk membentuk asam amino dan protein dari amonia. Proses degradasi dan pembentukan protein kembali memiliki dampak positif dan negatif pada ruminansia. Dampak negatifnya, tidak semua amonia yang dibebaskan dari pakan dapat dimanfaatkan oleh mikrobia. Amonia dapat lolos dan melalui dinding rumen dan memasuki aliran darah kemudian keluar melalui urin dan terbuang. Jumlah amonia yang hilang dapat dikurangi dengan pemberian ransum yang seimbang (contoh : formulasi ransum berdasarkan kebutuhan mikrobia dan ruminansia), sehingga jumlah amonia yang berlebihan dapat dihindari. Dampak negatif lainnya adalah adalah potensi terjadinya keracunan amonia yang terjadi jika terlalu banyak amonia yang lolos dari rumen ke dalam darah. Potensi terjadinya keracunan amonia dapat dihindari dengan manajemen pakan yang tepat dan formulasi ransum. Dampak positifnya, protein yang dibentuk oleh mikrobia untuk dimanfaatkan oleh mikrobia lainnya berkualitas tinggi dan menghasilkan nutrisi berupa protein murni untuk ruminansia jika mikrobia lolos ke dalam usus halus. Sebagai tambahan, protein mikrobia berkualitas tinggi dapat dihasilkan dari NPN. Kamampuan rumninansia untuk memanfaatkan NPN secara efektif memungkinkan suplementasi protein dengan biaya yang lebih ekonomis.
Kesimpulannya pemberian pakan pada ruminansia berbeda dengan non-ruminansia karena adanya fermentasi mikrobia rumen. Keuntungan adanya fermentasi mikrobia adalah kemampuan memanfaatkan serat (hijauan) dan sumber NPN. Sisi negatifnya, beberapa nutrien lolos dan dapat terjadi gangguan pencernaan pada ruminansia mengalami salah manajemen. Pada ruminansia dan non-ruminansia, produksi optimum terjadi pakan seimbang diberikan pada ternak. Suplementasi pada ransum dasar adalah esensial untuk meningkatkan fermentasi mikrobia dan sebagian besar nutrien dalam pakan dapat dimanfaatkan sehingga didapatkan hasil terbaik dari ruminansia.

By. Basthomi Izza Ashshofi

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.